Sastra anak adalah sastra yang diperuntukkan anak. Menceritakan kehidupan anak-anak praremaja. Misalnya cerita tentang petualangan, dongeng, maupun cerita tentang tokoh kenabian yang disampaikan oleh guru ngaji kepada anak-anak.
Dewasa ini, cerita yang disampaikan secara lisan atau yang sering disebut mendongeng sudah jarang dijumpai di masyarakat. Jarang kita melihat orang tua yang sedang mendongeng pada anak-anak di saat menjelang tidurnya. Orang tua lebih cenderung membiarkan anak-anaknya memelototi televisi, kemudian mengantuk dan tidur sendiri di depan televisi. Mereka beranggapan bahwa kalau hanya cerita sudah bisa dinikmati lewat tayangan film anak-anak atau sinetron anak-anak. Tinggal pilih saluran mana atau program acara apa yang disukai anak, itulah yang mereka sajikan.
Hal ini sangat berbeda dengan masa kecil saya. Orang tua selalu mendongeng terlebih dulu pada anaknya sebelum mereka tidur. Sang anak pun menikmati dengat enaknya suguhan dongeng yang memukau dan mereka terbawa arus cerita orang tuanya hingga rasa kantuk menjegalnya, akhirnya tertidur. Belum lengkap rasanya kalau bapak atau ibu atau nenek atau kakek belum mendongeng jika hendak berangkat tidur. Justru dengan dongeng inilah mereka cepat tertidur.
Entah karena kesibukan atau karena pergeseran zaman, orang tua lebih sedikit memberikan perhatian anak, terutama dalam hal cerita atau dongeng. Pergi ke luar rumah sebelum terbit matahari dan pulang setelah gelap gulita. Pertemuan di kamar tidur dengan anak nyaris tidak pernah mereka lakukan, karena pergi sebelum anaknya bangun dan pulang ketika anak telah terlelap tidur. Itu yang terjadi pada orang tua yang sibuk bekerja mencari penghasilan.
Perkembangan anak terdiri dari perkembangan fisik dan perkembangan psikis. Perkembangan fisik meliputi kesehatan dan pertumbu8han yang normal. Sedangkan perkembangan psikis atau psikologis meliputi perkembangan daya pikir dan imajinasi anak. Secara seimbang kedua aspek perkembangan anak tersebut harus diperhatikan. Jika anak diberi asupan gizi yang baik, niscaya anak akan tumbuh fisiknya secara normal. Jika anak dididik dan dibina dengan baik, perkembangan daya pikirnya pun akan normal sesuai dengan tingkat usianya.
Salah satu cara untuk mengembangkan daya pikir dan daya imajinasi anak adalah dengan mendongeng untuk anak. Mendongeng sebetulnya bisa memikat dan mendatangkan banyak manfaat, bukan hanya untuk anak-anak tetapi juga orang tua yang mendongeng untuk anaknya. Kegiatan ini dapat mempererat ikatan dan komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak. Para pakar menyatakan ada beberapa manfaat lain yang dapat digali dari kegiatan mendongeng ini.
Pertama, anak dapat mengasah daya pikir dan imajinasinya. Hal yang belum tentu dapat terpenuhi bila anak hanya menonton dari televisi. Anak dapat membentuk visualisasinya sendiri dari cerita yang didengarkan. Ia dapat membayangkan seperti apa tokoh-tokoh maupun situasi yang muncul dari dongeng tersebut. Lama-kelamaan anak dapat melatih kreativitas dengan cara ini.
Kedua, cerita atau dongeng merupakan media yang efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika kepada anak, bahkan untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya nilai-nilai kejujuran, rendah hati, kesetiakawanan, kerja keras, maupun tentang berbagai kebiasaan sehari-hari seprti pentingnya makan sayur dan menggosok gigi. Anak juga diharapkan dapat lebih mudah menyerap berbagai nilai tersebut karena tidak adanya sikap memerintah atau menggurui, sebaliknya para tokoh cerita dalam dongeng tersebutlah yang diharapkan menjadi contoh atau teladan bagi anak.
Ketiga, dongeng dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat baca anak. Setelah tertarik pada berbagai dongeng yang diceritakan , anak diharapkan mulai menumbuhkan ketertarikannya pada buku. Diawali dengan buku-buku dongeng yang kerap didengarnya, kemudian meluas pada buku-buku lain seperti buku pengetahuan, sains, agama, dan sebagainya.

