“Pak, ada pencuri!” Teriak Puput ketika dilihatnya Pak Iksan memasuki ruang kelas.
“Selamat siang anak-anak!” sapa Pak Iksan kepada para siswa.
“Selamat siang, Pak!”
“Puput, ada apa? Tolong biasakan, setiap kali bertemu dengan siapapun yang kita kenal, ucapkan salam terlebih dahulu sebelum mengutarakan keinginan. Dengan salam, pikiran akan tenang, hatipun tentram. Yang semula mau marah, menjadi hilang. Sekarang, Puput ceritakan apa yang telah terjadi!” kata Pak Iksan dengan sabar.
Dengan hati-hati Puput mulai bercerita. “Tadi Pak, waktu istirahat uang saya hilang sepuluh ribu. Sebenarnya sih, tidak apa-apa. Misalnya mau minta, juga saya kasih. Tetapi pak, mencuri kan dosa! Dan bila dibiarkan, nanti jadi langganan!”
“Iya Pak! Tangkap saja Pak, pencurinya!”
“Keluarkan dari sekolah saja, Pak!”
“Betul, Pak! Memalukan!”
Anak-anak saling berebut, berteriak dengan lantang. Dengan telaten Pak Iksan menenangkan mereka. Menenangkan dengan petuah-petuahnya yang menyejukkan. Dalam hati Pak Iksan sendiri tidak percaya bila ada anak didiknya yang mau mengambil uang temannya. Kebanyakan, bahkan bisa dikatakan mereka semua dari keluarga berada. Tidak mungkin bila ada yang kekurangan dan mau mengambil yang bukan haknya.
“Mungkin Puput lupa? Coba diingat-ingat! Jangan sampai semua ini menjadi fitnah. Disamping dosa, juga merenggangkan persahabatan di antara kalian! Lagi pula, untuk apa sih anak sebesar kalian membawa uang saku sebanyak itu? Tugas utama kalian itu belajar. Jangan dibantah ya, kalian uang sakunya banyak juga pandai. Pandai itu tidak hanya dalam mengerjakan soal, tetapi juga ketrampilan dan sikap yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari!”
Pak Iksan lantas bercerita tentang orang-orang sukses dan terkenal. Ternyata dengan kesederhanaan dan keuletan akan membentuk pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Menumpuknya harta bisa mengurangi waspada, bahkan membuat terlena. Selagi muda, sebaiknya berpacu dengan waktu meraih yang dituju.
Dengan seksama para siswa mendengarkan cerita Pak Iksan, kadang diselingi pertanyaan yang membuat suasana menjadi lebih hidup. Hati dan pikiran siswa lebih terbuka, tidak lagi terpancang ketegangan uang hilang.
Pak Iksan memang sengaja tidak menggunakan jam untuk menambah materi pelajaran, melainkan sambil bercerita dan berbincang dengan para siswa mencoba memahami dan mengamati sikap masing-masing individu. Bila memang ada yang mengambil uang Puput, tentu ada perubahan ekspresi wajah dan gerak-geriknya. Sayang, sampai bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi, Pak Iksan belum menemukan yang dicari. Pak Iksan berkeyakinan, orang luarlah yang mengambilnya. Tapi, siapa?
“Anak-anak tidak perlu khawatir, masalah ini akan saya selesaikan sampai tuntas. Untuk mengantisipasi jangan sampai terulang lagi, semua harus hati-hati.” Pesan Pak Iksan sebelum meninggalkan ruang kelas menuju ke kantor guru.
“Pak, saya tahu siapa pencurinya!” Baru saja Pak Iksan akan duduk di kursi, terdengar ada suara anak putri di sampingnya.
Lo, kamu Rina? Benar, kamu lihat sendiri? Jangan berprasangka, itu dosa!” Dengan penuh keheranan dan rasa tidak percaya Pak Iksan menatap Rina.
“Benar Pak, seratus persen benar dan tidak meleset!”
“Kamu lihat sendiri?”
Rina menggeleng.
“Lo, katanya tahu siapa yang mengambil, kok tidak lihat sendiri! Terus, gimana?”
“Tidak lihat sendiri Pak, tetapi melakukan sendiri.”
“Rina?! Benar, kamu tidak main-main?” Pak Iksan menatap wajah Rina dalam-dalam. “Mengapa kamu melakukannya, Rina?”
Tanpa diperintah, Rina duduk di kursi depan Pak Iksan. Ia bercerita, semua ini dilakukannya karena protes pada mamanya. Rina iri melihat teman-temannya setiap datang dan pulang sekolah diantar mamanya. Bagi Rina itu tidak pernah terjadi. Kemana pun Rina pergi, hanya pembantu yang menemani. Orangtua Rina terlalu sibuk mengurus bisnisnya.
Pak Iksan mengangguk-angguk, mencoba menyelami kejiwaan Rina. “Mengapa keinginanmu itu kau wujudkan dengan mengambil uang temanmu, Rina?”
“Mudah saja, Pak. Nanti orangtua Rina kan dipanggil ke sekolah. Mestinya kan malu, terus saya jadi diperhatikan biar tidak mencuri lagi!” jawab Rina polos. “Ayo dong Pak, tilpon Mama ke sini! Biar Mama tahu! Saya tidak mau pulang bila Mama tidak ke sini!” Rina terus merengek sambil memberikan nomer hp mamanya pada Pak Iksan.
“Rina, orangtua bekerja itu kan demi keluarga. Seharusnya Rina bersyukur, orangtuanya mampu. Coba…,”
“Iya, Pak! Tapi saya juga butuh kasih sayang!” Rina memotong pembicaraan.
Pak Iksan mengalah. Segera saja ia menelepon mamanya Rina. Mamanya Rina menyanggupi, sebentar lagi akan menjemput putrinya. Rina senang. Sebagai luapan kegembiraan, ia bercerita tentang apa saja dengan penuh suka cita.
Hampir satu jam ditunggu, mamanya Rina belum datang juga. Pak Iksan dan Rina mulai was-was. Tiba-tiba saja hp Rina berdering.
“Ya, hallo ada apa? Ha?! Mama? Mama kecelakaan?! Maafkan Rina, Ma! Rina salah…! Rina tidak seharusnya bertingkah. Tapi, Rina juga ingin diperhatikan Mama! Maafkan Rina, Ma…” Rina terus menangis. Hatinya menyesal telah membuat mamanya celaka. Tiba-tiba pula bayangan Puput dan kawan-kawan melintas di benaknya. Mereka mengolok-olok karena Rina telah melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Tangis Rina semakin keras, dan menjadi. (Rita Nuryanti)

